Feature » Sensasi Tsunami dalam Museum

Museum

Ingin merasakan gempa dasyat dan digulung ombak tsunami? Sensasi tersebut kini dapat dirasakan ketika berkunjung ke museum tsunami di Banda Aceh. Sajian film empat dimensi membawa anda seolah bergelut dengan gelombang raya yang meluluhlantakkan Aceh tujuh tahun silam.
Di ruangan berukuran 8×8 meter, sekitar 40 kursi berjejer dilengkapi sabuk pengaman dan kacamata anti radiasi. Layar raksasa mengantar kita pada hiruk-pikuk kota dengan gedung-gedung pencakar langit. Sekejap, anda dibawa berjalan di taman kota yang rindang, bekerja di kantor atau pabrik bahkan menyelam di lautan bersama ikan warna-warni diantara karang-karang.
Tiba-tiba bumi bergoyang hebat. Gedung-gedung ambruk. Jalan-jalan retak dan patah. Bunyi sirene meraung-raung membuat warga kota panik menyelamatkan diri. Mobil-mobil di jalan bertabrakan. Jerit tangis membahana.
Di laut air mulai surut, orang-orang makin panik, teriakan histeris dimana-mana. Lalu, ombak raya menerjang, menggulung apa saja yang dilewatinya. Kota porak-poranda. Helikopter meraung-raung menyelamatkan orang dari atas gedung.
Kejadian demi kejadian itu adalah adegan dalam film animasi empat dimensi. Anda dibawa seolah sedang berada di sana. Ketika layar menampilkan adegan gempa, badan anda ikut bergoyang seolah gempa benar-benar terjadi. Saat ombak datang, air ikut memercik ke arah anda. Begitu juga ketika layar menampilkan gedung terbakar, aroma benda terbakar langsung menyergap memenuhi ruangan, menusuk hidung.
Inilah terobosan baru di museum yang dibangun untuk mengenang korban bencana tsunami Aceh. Sayang pengantar maupun dialog-dialog dalam film tersebut masih menggunakan bahasa mandarin.
Penanggung jawab pengelola museum, Asep Mulyana menjelaskan, dalam waktu dekat film tersebut akan dialihbahasakan ke bahasa Indonesia. “Sekarang dalam tahap pengerjaan,” kata staf Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) ini.
Gubernur Irwandi Yusuf termasuk yang kepincut dengan film empat dimensi itu. Ketika menyaksikan pemutaran perdananya, ia meminta film serupa dibuat dalam versi Aceh. “Harusnya ada film yang dibuat berdasarkan kejadian gempa dan tsunami Aceh, dengan setting tempat dan kultur Aceh,” kata Irwandi.
Menanggapi pemintaan Gubernur, Asep menyatakan, pihaknya memang sedang menyiapkan film itu. “Insya Allah tahun ini akan dimulai,” jelasnya.
Masalahnya, kata Asep, di Indonesia belum ada industri pembuat film empat dimensi “Jadi terpaksa kita menggunakan orang asing. Tapi orang-orang lokal juga dilibatkan sebagai bentuk pertukaran informasi,” ujarnya.
Setelah ditutup sejak empat bulan lalu, museum tsunami akan dibuka kembali pada Minggu (8/5). Bagi yang ingin merasakan tsunami ala film empat dimensi ini, jangan datang sendiri. Sebab, pengelola museum hanya mengizinkan pengunjung yang datang minimal 20 orang. Alasannya, renovasi museum belum selesai. “Dalam waktu dekat kita akan memungut tiket bagi pengunjung, namun masih menunggu peraturan gubernur,” ujar Asep.
Pasca renovasi, suasana museum terasa berbeda dari sebelumnya. Di lantai pertama, setelah melewati terowongan air, akan disuguhkan gambar-gambar kejadian saat tsunami melalui belasan monitor ukuran 15 inci.
Di lantai dua yang sebelumnya hanya dipajang foto-foto kejadian tsunami, sekarang diganti dengan miniatur dan diaroma yang menampilkan suasana dan bangunan yang rusak saat dihantam tsunami. Ada mesjid Lampuuk yang berdiri utuh diantara reruntuhan, miniatur pembangkit listrik tenaga diesel yang terdampar di perkampungan penduduk serta beberapa miniatur lain yang dipajang dalam kaca berukuran 2x 2 meter.
Nah, film animasi berada di lantai tiga. Di sinilah anda akan benar-benar dibawa merasakan gempa dan hempasan ombak. Masih trauma dengan tsunami? Sebaiknya anda jangan ke sini.[]