Feature » Ujian Tunanetra Tanpa Braille

Sirwandi

Dengan penuh konsentrasi lelaki itu terus mendengar satu persatu soal yang dibacakan untuknya. Sebelum menjawab, kerap dia meminta ulang bacaan soal-soal pilihan ganda. Lalu sang pembaca membulati kolom-kolom pada lembar jawaban, setelah jawaban disebutkan.
Sirwan, begitu nama lengkap pria 19 tahun yang tak bisa melihat sejak bayi. Senin (18/4), bersama 4.597 orang pelajar lainya di Aceh, dia menjawab soal-soal Ujian Nasional (UAN), Semua naskah ujian, mulai dari soal,lembar jawaban tak ada beda dengan pelajar normal lainnya. Bedanya soal untuk Sirwan, harus dibaca oleh pendamping yang ditunjuk dinas pendidikan Aceh.
“Soal tidak susah sih, tapi kerena harus dibacakan orang lain, agak lama dalam menjawab,” ujar siswa SMU Luar Biasa Bukesra, usai mengikuti ujian Bahasa Indonesia di SMU 4 Banda Aceh. Sirwan tidak sendiri yang dibacakan soal, ada Sofi Sazali juga berasal dari sekolah yang sama yang duduk berselang dua meja di sisi kiri Sirwan.
Menurut dia, semua yang diuji sudah pernah dipelajari dan masih diingatnya, “Bedanya saat belajar saya membaca pada huruf Braille. Di sini tidak menggunakan huruf itu, maka susah. Sangat beda menjawab soal membacakan sendiri dengan dibacakan orang lain,” ujar lelaki yang punya cita-cita jadi guru tersebut. Waktu menjawab soal untuk mereka, sama dengan siswa lain.
Lelaki yang punya hajat hendak melanjutkan kuliah di Pendidikan Luar Biasa (PLB) Bandung atau Universitas Pendidikan Indonesia ini optimis bisa lulus dan melanjutkan cita-citanya. “Walau lambat saya berhasil menjawab semua soal,” kata lelaki yang menguasai computer dengan bantuan program pembaca layar ini.
Suryani, kepala sekolah SMU LB Bukesra berharap, ke depan paket soal ujian tidak disamakan antara pelajar normal dengan pelajar punya kelainan, misalnya untuk tuna netra harus disediakan paket soal dengan huruf Braille, untuk tuna Gharita (keterbelakangan mental) tingkat kesusahannya juga harus dibedakan “Bukankah mereka juga punya hak dalam pendidikan,” ujar Suryani yang setia menunggui anak didiknya mengikuti UAN.
Suryani yang sudah 4 tahun memimpin sekolah luar biasa itu menyatakan, jauh-jauh hari sebelum ujian, pihaknya sudah mengusulkan untuk dibuat soal khusus bagi mereka yang punya kelainan.
Namun solusi yang diberikan dinas, akan mengkonsentrasikan penyandang tuna netra dan tuna gharita dengan paket soal khusus di daerah yang banyak penderitanya, kemudian anak didiknya harus harus ikut UAN di sana “Karena keterbatasan dana, saya tidak memberi jawaban, karena sudah pasti di luar Banda Aceh” ungkapnya.
Menurut dia, di bawah tahun 2007 pemerintah selalu menyediakan paket soal khusus bagi orang-orang cacat di Aceh, namun 2008 paket soal khusus itu telah ditiadakan, padahal tahun ini Banda Aceh diikuti sekitar 20 orang tunanetra dan tuna gharita. “Walau punya masalah dengan fisik, mereka juga punya cita-cita dan tujuan hidup,” ungkap Suryani. []